Aisyah Nayyira

Tanggal 14 Oktober, 2025, Pukul 08:30, bidadari kecilku lahir. Kuberi nama Aisyah Nayyira, dengan harapan ia dapat meniru akhlak mulia guruku, Ummi Nyai Aisyah Cholis. Menjadi ayah, demikianlah statusku berubah ketika mutiara hatiku ini “nongol” ke dunia. Tentu saja istriku, orangtua dan mertua, serta beberapa hirarki dalam keluarga juga memperoleh status baru, “sepupunya Aisyah, pamannya, bibinya” dan seterusnya. Aku bersyukur, saat ia lahir semua orang di lingkungan keluarga besar, baik dari pihak ibunya Aisyah atau dari ayahnya, tampak bersukacita menyambut orang baru di tengah-tengah mereka. Jangan tanya bagaimana perasaanku!

Peralihan status, akibat munculnya manusia-manusia baru di sekeliling kita memang tidak “terasa”. Tak ada yang berubah, seorang lelaki biasa yang awalnya hanyalah suami dan kini juga bertambah status menjadi ayah. Yang jelas, persoalan ekonomi menuntut untuk terus diperhatikan secara lebih detail, mengingat popok dan susu formula (sebagai bantu ASI), mulai saat ini harus masuk dalam daftar belanja bulanan atau mingguan.

Di samping kebutuhan ekonomi yang kian bertambah, tentu penambahan status ini menjadi anugerah besar dalam hidup. Seorang ayah, menyadari dengan betul berbagai risiko yang harus ditanggung ketika ia menyongsong kelahiran sang anak. Tantangan dalam membesarkannya dengan baik, gizi terpenuhi, sehat, memiliki pendidikan yang baik, bahkan tuntutan untuk mewariskan nilai-nilai luhur tertentu bukanlah persoalan mudah. Semuanya membutuhkan modal, baik materil maupun moril.

Kebahagian atas menabalnya status baru sebagai “ayah”, harus dibayar mahal dengan berbagai kewajiban serta tuntutan panjang kita untuk membesarkan sang buah hati dengan penuh kehati-hatian dan perjuangan. Namun, itulah sejatinya titik yang sangat membahagiakan. Manusia dilahirkan untuk berjuang guna memperoleh sesuatu dan menjaganya dengan baik.

Seorang teman yang baru saja lulus kuliah, bergegas untuk mencari kerja. Nyaris tidak ada waktu dan kesempatan untuk sekadar menikmati status sarjana yang sekarang ia sandang. “oh, tidak. Aku menikmatinya dengan cara menukar ijazah itu ke kantor-kantor tertentu”, katanya berseloroh. Ya memang demikianlah takdirnya. Menikmati sesuatu tidak harus dengan sesuatu yang tampak “menyenangkan”. Sebaliknya, “bertungkus lumus” dengan berbagai kesibukan perjuangan adalah gambaran terbaik untuk menikmatinya.

Komentar